Teori Filsafat Dakwah

23 Jun

Teory filsafat dakwah

  1. A.     Pendahuluan

                                                   

Banyak ilmu yang kita peroleh baik dari informasi, pendapat, ceramah, membaca buku, ataupun dari upaya lainnya. Setiap tokoh yang menuliskan teori  tentang suatu ilmu, tentunya atas dasar penelitian yang dilakukannya. Termasuk dengan ilmu teori filsafat itu sendiri. Karena penelitian tersebut terlahir dari dalam hasrat manusia, yaitu hasrat ingin tahu. Dari hasrat tersebut seseorang yang menginginkan suatu jawaban yang puas akan berusaha mencari tahu. Manusia akan merasa puas jika apa yang ingin diketahuinya telah terjawab. Keingintahuan tersebut dapat terlahir dari pengalaman, kondisi lingkungan yang ada disekelilingnya.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Ibn Khaldun. Mula-mula ia ingin menulis buku sejarawan yang melampaui batas-batas negara dimana ia hidup, disamping menulis sejarah universal yang pada waktu itu masih merupakan karya agung, unik, di negara-negara muslim. Namun demikian, ia juga ingin menulis karya filsafat dengan berpangkal pada sintesis pengetahuan-pengetahuan historisnya.[1]

Dalam teori filsafat dakwah yang akan dibahas pada makalah ini terdapat sub-sub suatu pembahasan. Diantaranya adalah konsep filsafat dakwah, hal ini mengkonsep suatu filsafat dakwah dan mencoba menjelaskan suatu kosep tersebut. Peranan teori filsafat dakwah memiliki peran yang sangat penting, karena dengan peranan ini teori yang akan digunakan akan berpengaruh pada prakteknya. Tujuan dan filsafat dakwah, teori filsafat dakwah mempunyai tujuan yakni untuk tujuan yang lebih baik dan benar agar terarah dalam tujuan yang sesungguhnya. Serta permasalahan yang muncul karena perubahan lingkungan media, dalam teori ini akan terpengaruh dengan lingkungan media. Apalagi seperti zaman sekarang. Pengaruh media pada masyarakat sangat besar

  1. B.     Konsep Filsafat Dakwah

Ilmu dapat kita peroleh darimanapun. Dari situlah ada upaya lain yang nantinya membuat kita kaya akan konsep-konsep yang akan menjadi teori.  Seperti contoh yang telah diulas pada latar belakang sebelumnya. Ibn Khaldun  merefleksi terhadap momen historis dimana ia berada dan memuat sarana intelektual yang dapat ia terima dari peristiwa-peristiwa yang sezaman dengannya. Pada saat itu dapat terlihat dengan jelas banyak terlahir figur-figur utama yang bersemangat dalam ranah aksi lahirnya maupun pemikiran. Tampak bahwa penindasan dan kesulitan jiwa menumbuhkan rasa ingin tahu yang lebih tajam.[2]

            Oleh karena itu dapat dikatakan yang menuntun orang kepada teori adalah masalah yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian teori itu muncul sebagi ilmu yang perlu untuk dikaji dan diamalkan dalam perbuatan yang secara  praktis mampu menjelaskan tentang hal sesuatu yang ditinjau dari segi penggunaan dan tujuan yang sederhana.[3]

Dari suatu teori yang kita ketahui, kita dapat mengkosep filsafat dakwah. Karena dalam diri manusia memiliki potensi untuk mencari, menemukan  dan meneriam kebenaran. Mengkonsep suatu filsafat dakwah dan mencoba menjelaskan suatu kosep tersebut. Filsafat dakwah juga berarti ilmu pengetahauan yang mempelajari secara kritis dan mendalam tentang dakwah dan respon terhadap dakwah yang dilakukan oleh para da’i, sehingga mad’u yang menjadi objek dapat menjadi manusia yang baik. Dengan demikian filsafat dakwah akan mempelajari secara kritis dan mendalam mengapa ajaran dan nilai-nilai Islam perlu dikomunikasikan, disosialisasikan, dan diamalkan.

Dari semua itu dapat ditarik suatu konsep untuk dapat menjelaskan suatu konsep filsafat dakwah tersebut. Sehingga dari konsep filsafat dakwah yang telah kita pahami kita dapat mengaplikasiaknnya dalam kehidupan nyata.

 

  1. C.     Peranan Teori Filsafat Dakwah

Berbicara tentang peranan teori filsafat dakwah, kita harus memahami apa itu arti atau pengertian teori itu sendiri. Teori adalah suatu gagasan dari suatu ilmu pengetahauan. Teori juga dapat dikatakan sebagai pendukung dari sebuah ilmu pengetahuan dan untuk memperkuat dari ilmu pengetahuan tersebut. Sesuatu teori yang baik dapat menjelaskan kepada kita tentang sesuatu fenomena.

Dari pengertian diatas dapat kita lihat pada kenyataan yang ada pada diri manusia, yang pada umumnya manusia sesungguhnya belajar dari pengalaman untuk memahami fenomena alam dan manusia, para ilmuan menyuguhkan teori-teori yang mereka temukan dari hasil penelitian untuk menghadapi suatu fenomena.[4]

Jika ilmu tidak diimplementasikan maka akan memberikan dampak yang negatif adalah pemutusan ilmu khususnya ilmu-ilmu agama dari amal perbuatan dan amal berubahnya ilmu menjadi sekumpulan teori belaka yang jauh dari kenyataan dan penerapannya.

Dengan demikian peranan teori filsafat dakwah dapat diartikan sebagai cara berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat dengan tradisi, dogma serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya  sehingga sampai ke dasar-dasar persoalannya. (Harun Nasution, Filsafaf Agama: 1973).[5]

Sedangkan kaitannya dengan peranan teori filsafat dakwah adalah, teori digunakan untuk menjawab suatu permasalahan yang ada pada masyarakat. Dan untuk mendukung adanya suatu penelitian.  Sehingga dengan adanya peranan ini, manusia dapat memahaminya dan mengaplikasikannya pada kehidupannya sehari-hari.

 

  1. D.    Tujuan Filsafat Dakwah

Tujuan dari ilmu teoritis adalah untuk memperoleh atau mengubah pengetahuan, yang terdiri dari ilmu formal dan ilmu empiris. Ilmu formal ini kemudian menghasilkan struktur murni. Sedangkan ilmu empiris merupakan hasil interpretasi terhadap ilmu formal yang diproyeksikannya pada aspek tertentu dari dunia kenyataan.[6]

Ilmu teoritis mengungkapkan tentang cara berfikir yang sangat dominan, deduktif dan menggunakan dogmatis hukum dan biasanya mengedepankan prinsip, dalil dan rumus-rumus. Teori-teori itu dari suatu ilmu merupakan bagian dalam sistematika ilmu untuk mencari kebenaran dari ilmu tersebut dan memiliki peranan-peranan dalam pembuktian dan pengembangan suatu ilmu.[7] Begitupun dengan filsafat itu sendiri. Filsafat begitu berperan dan menjadi penunjang penyeimbang antara teori tujuan dan filsafat tersebut.

Adapun yang menjadi tujuan filsafat dakwah, yaitu dapat memberikan pemahaman yang bersifat universal tentang suatu ajaran Islam secara mendalam dan mendasar.  Sehingga akhirnya dapat membawa kebenara yang hakiki. Dan kebenaran yang hakiki tersebut dapat terimplementasikan dalam sikap kesehariannya sebagai seorang muslim.[8]

Islam tidak menentang pemikiran rasional, bahkan Islam justru menyerukan dan menggalakan berpikir. Sebab ajakan Islam untuk berfikir rasional bukan berarti ajakan berfilsafat dengan gaya Yunani.[9]

Jadi agar semua itu dapat diterima oleh mad’u dalam dakwahnya, kita jangan terlalu fanatik dalam mengartikan sesuatu. Akan tetapi kita harus bersikap realistis, tetapi tetap pada jalan syariat Islam yang benar dan tepat. Sehingga apa yang disampaikan dapat diterima bagi semua kalangan masyarakat umum. Karena filsafat adalah ilmu yang bertujuan untuk menjelaskan pertanyaan atau rasa ingin tahu manusia terhadap sesuatu yang ada dalam benaknya. Hal ini tetap tidak mengesampingkan kebenaran Al-Qur’an dan hadits.

 

  1. E.     Permasalahan Yang Muncul Karena Perubahan Lingkungan

Dari penjabaran sebelumnya, kita dapat melihat suatu permasalahan yang muncul karena perubahan lingkungan. Baik dari konsep filsafat itu sendiri, peranan teori filsafat dakwah ataupun dari tujuan filsafat dakwahnya.

Hal-hal tersebut dapat muncul akibat lingkungan. Apalagi lingkungan sekarang ini sudah sangat maju dan moderen. Jadi, pengaruh lingkungan yang menjadi permasalahan yang muncul pada ketiga permasalah diatas  benar adanya dengan pengaruh lingkungan. Sesuatu teori, dapat diartikan yang berbeda-beda oleh setiap individu. Oleh karenanya, agar kita bisa tetap berada pada koridor yang benar, dalam berfilsafat harus berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits.

Sehingga apa yang kita konsep, peran teori filsafat dakwah, dan tujuan filsafat dakwah tersebut dapat terarah. Dan kita dapat memfilter diri kita agar tidak terbawa arus dengan lingkungan yang banyak memunculkan masalah. Justru malah sebaliknya, kitalah yang dapat mempengaruhi permasalahan lingkungan yang tidak baik, menjadi baik. Tentunya kita dapat mengokohkan ilmu yang kita dapat dengan baik, terutama dalam memahami apa konsep, peranan teori, dan tujuan filsafat dakwah itu sendiri. Kita dapat mengaplikasiakan ilmu yang kita dapat pada kehidupan nyata. Jadi bukan hanya sekedar berteori saja.

Permasalahan yang muncul karena perubahan lingkungan adalah seiringnya dengan kemajuan zaman tentunya media, sains dan teknologi dari barat, nilai-nilai agama secara berangsur-angsur bergeser bahkan bersebrangan. Bagi kalangan ilmuan barat, agama adalah penghalang kemajuan.[10]

Berbeda halnya dengan zamannya nabi-nabi. Media-media pada saat itu, berbeda dengan media yang ada pada zaman sekarang. Media yang ada pada saat itu dapat dikatakan sederhana, contohnya adalah media cetak dengan menggunakan pelepah kurma. Filsafat berkembang sesuai dengan perputaran dan perubahan zaman.

 

  1. F.     Kesimpulan

A. Ilmu dapat diperoleh dari manapun, baik dari informasi, pendapat,    ceramah, dari membaca buku, dan dari upaya lain. Dari situlah ada upaya lain yang nantinya membuat kita kaya akan konsep-konsep yang akan menjadi teori. Dari suatu teori yang kita ketahui, kita dapat mengkosep filsafat dakwah. Karena dalam diri manusia memiliki potensi untuk mencari, menemukan  dan meneriam kebenaran.

B. Sebelum melangkah pada apa yang menjadi peranan teori filsafat dakwah, kita harus mengetahui apa itu teori. Teori adalah suatu gagasan dari suatu ilmu pengetahauan. Adapun kaitannya dengan filsafat dakwah adalah, teori digunakan untuk menjawab suatu permasalahan yang ada pada masyarakat.

C. Tujuan filsafat dakwah, yaitu dapat memberikan pemahaman yang bersifat universal tentang suatu ajaran Islam secara mendalam dan mendasar.

D. Lingkungan sekarang ini sudah sangat maju dan moderen. Jadi, pengaruh lingkungan yang menjadi permasalahan yang muncul pada ketiga permasalah diatas  benar adanya dengan pengaruh lingkungan. Permasalahan yang muncul karena perubahan lingkungan adalah seiringnya dengan kemajuan zaman tentunya media, sains dan teknologi dari barat, nilai-nilai agama secara berangsur-angsur bergeser bahkan bersebrangan. Jadi kita harus bisa memperkuat ilmu, agar kita dapat memfilter lingkungan yang tidak baik.

DAFTAR PUSTAKA

Gaston Bouthoul, Teori-Teori Filsafat Sosial Ibn Khaldun, Yogya: Titian Ilahi Press, 1998, cet. I.

Fahrul Mufid, Filsafat Ilmu Islam, Kudus: Buku Daras, DIPA STAIN Kudus, 2008.

Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004, cet. 3.

Abdul Maqsud Abdul Ghani Abdul Maqsud, Agama dan Filsafat,  Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.

Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.

Firdaus Bin Musa (2009),Tujuan Filsafat Dakwah, diakses dari, http//www.goggle.com., tanggal 22 Juni 2011.

 


                [1]Gaston Bouthoul, Teori-Teori Filsafat Sosial Ibn Khaldun, (Yogya: Titian Ilahi Press, 1998, cet. I), h. 12.

[2]Ibid, h. 13.

[3]Fahrul Mufid, Filsafat Ilmu Islam, (Kudus: Buku Daras, DIPA STAIN Kudus, 2008), h. 156.

[4]Ibid., h. 155.

[5]Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004, cet. 3), h. 4.

[6]Fahrul Mufid, lot. Cit., h. 160.

[7]Ibid, h. 161.

[8]Firdaus Bin Musa (2009),Tujuan Filsafat Dakwah, diakses dari, http//www.goggle.com., tanggal 22 Juni 2011.

[9]Abdul Maqsud Abdul Ghani Abdul Maqsud, Agama dan Filsafat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000, cet. I), h. 3.

[10]Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, (jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 231.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: